Satria Dharma,Pahlawan Literasi dari Surabaya

Sosoknya kalem, tidak banyak bicara dan murah senyum, sesekali dia melempar wajah ramahnya kepada setiap orang yang ditemuinya, walau ia sama sekali tak mengenalnya. Bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dengan tingkat pendidikan dan pemahaman yang beragam, telah menjadi makanan empuknya sehari-hari. Ya… pekerjaannya adalah berkeliling nusantara, menelusuri pelosok-pelosok negeri, berbicara dan memberikan tausyiyah literasi kepada banyak orang dengan beragam tingkat pemahaman dan pendidikan. Dialah Bapak Satria Dharma, guru, pendidik, dan pejuang literasi yang telah memiliki jam terbang di atas rata-rata, yang mampu mempengaruhi banyak orang melalui gerakan yang digadang-gadangnya sejak 2010, gerakan literasi nasional.

Satria Dharma, dulunya adalah seorang guru bahasa Inggris, saat ini beliau telah memasuki usia pensiun, namun semangat dan perjuangan yang dikobarkannya mampu memengaruhi orang-orang yang ada di sekitarnya, pun orang-orang yang jauh, yang bahkan tidak beliau kenal, yang hanya mengenalnya melalui tulisannya, dengan gerakannya yang disebut sebagai gerakan literasi. Beliau juga aktif di organisasi, terakhir kali beliau bersama rekan-rekan seperjuangannya mendirikan organisasi profesi guru yang kemudian dikenal dengan IGI (Ikatan Guru Indonesia), dan beliau lah yang menjabat ketua umum hingga 2015 kemarin.

Perjuangan Pak Satria yang dilakukannya melalui gerakan literasi, sebenarnya adalah gerakan kecil, gerakan yang ia sebut dapat mengantarkan bangsa dan generasi penerus bangsa, pada tingkat dan taraf hidup yang lebih baik. Melalui gerakan yang dibawanya keliling nusantara, Pak Satria mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pelajar, pendidik, kiai, ustadz, tokoh masyarakat, simpatisan pendidikan dan penggiat pendidikan, untuk bersama-sama menggalakkan literasi, menumbuhkan semangat membaca dan menulis, yang beliau pahami bahwa kegiatan membaca adalah perintah pertama yang diterima oleh Rasulullah, namun seringkali diabaikan oleh umat Islam sendiri.

Sisi yang sekali lagi patut menjadi pelajaran dan uswah kehidupan bagi kita, dari sosok seorang Satria Dharma, adalah semua kegiatan literasi yang digalakkannya, keliling nusantara, mulai dari Indonesia bagian barat, sampai Indonesia ujung timur, berbicara di depan banyak orang, menghadiri undangan banyak organisasi dan lembaga, semuanya diakukannya dengan biaya pribadi, sungguh luar biasa. Berkeliling nusantara, mengunjungi banyak tempat, berbiacara di depan banyak orang, hanya untuk menumbuhkan semangat membaca dan menulis pada mereka, bukan perkara yang mudah, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, menghabiskan waktu yang entah berapa lama, dan itu semua, diakukan oleh Pak Satira seorang diri. Istri yang setia selalu mendampinginya, menjadi penumbuh semangat tersendiri bagi Pak Satria untuk terus berjuang menumbuhkan semangat literasi bagi semua orang.

Belum selesai sampai di situ, setiap akhir tahun, beliau selalu menuliskan pengalaman literasinya dalam sebuah buku, diterbitkan dan kemudian dibagikan gratis kepada siapa saja yang ingin membacanya. Sungguh sekali lagi, melalui hal sederhana yang beliau lakukan dengan istiqomah ini, banyak orang diseluruh pelosok negeri ini yang pada akhirnya sadar akan pentingnya literasi, bukan sekedar anjuran namun lebih pada satu perintah yang menunjukkan kepada kewajiban.

Melalui usahanya, kini beberapa kabupaten dan kota di beberapa daerah telah mendeklarasikan diri sebagai kabupaten atau kota literasi. Sebut saja misalnya Surabaya yang digawangi langsung oleh walikotanya Tri Rismaharini. Kota asal dan tempat tinggal Pak Satria ini, menjadi kota pertama di Indonesia, yang mendeklarasikan diri sebagai kota literasi. Hasilnya? Tak perlu diragukan, program yang dirancang langsung oleh Pak Satria ini berhasil dan mendapat dukungan penuh dari dinas terkait, seperti dinas pendidikan. Dengan program literasi yang dirancang oleh Pak Satria, melalui kebijakan kepada dinas pendidikan, Surabaya seketika itu berubah, sekolah-sekolah wajib melaksanakan kegiatan membaca lima belas menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai.

Seketika itu pula, geliat Surabaya sebagai kota literasi mulai berubah, ratusan dan bahkan ribuan buku didatangkan dan disebarluaskan melalui sekolah-sekolah di Surabaya, sebagai bagian dukungan untuk gerakan literasi ini. Nampaknya usaha yang dilakukan Pak Satria benar-benar menunjukkan hasil yang luar biasa, setelah Surabaya mendeklarasikan diri sebagai kota literasi, menyusul kemudian kota-kota yang lain, seperti Jakarta dan sebagainya.

Apa yang dilakukan Pak Satria di atas, dimulai dari hal-hal yang sifatnya sederhana dan dilakukan dengan istiqomah, kini menjadi program nasional yang dicanangkan pemerintah melalui kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Membaca lima belas menit sebelum pelajaran pertama dimulai, kini menjadi kewajiban setiap sekolah mulai dari tingkat dasar hingga tingkat menengah. Diharapkan melalui kegiatan ini, akan lahir semangat baru dikalangan pelajar khususnya, untuk membaca dan menulis, sebagai suatu kebiasaan yang baik.

Pak Satria yang  juga pernah mendirikan empat belas universitas dan sekolah tinggi ini, juga pernah membentuk organisasi yang kemudian dikenal dengan IGI (Ikatan Guru Indonesia). Melalui IGI, Pak Satria benar-benar menyebarkan dan ‘menularkan’ kebiasaan menulis dikalangan guru. Peningkatan kompetensi guru menjadi program pokok dan terpenting dalam IGI, sehingga guru-guru yang tergabung dalam organisasi bentukan Pak Satria ini, terus berkompetisi, berbagi dan saling memberi pengalaman satu dengan yang lainnya, terkait hal yang sifatnya peningkatan kompetensi. Maka tak heran jika saat ini IGI telah memiliki perwakilan dan cabang-cabang di hampir seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.

Apa yang dilakukan oleh Pak Satria dengan IGI nya, sungguh telah menginspirasi dan menyadarkan banyak orang akan pentingnya membaca, menulis dan melestarikannya. Surabaya telah memulainya sebagai kota literasi, disusul DKI Jakarta sebagai Provinsi literasi, semua dibangun dengan semangat Satria Dharma bersama kawan dan sahabat yang peduli pada gerakan sederhana ini. Disamping itu dukungan penuh walikota dan gubernur menjadi sumbu semangat tersendiri yang dapat menyuburkan gerakan literasi. Patut menjadi perhatian dan teladan kita bersama, bahwa melalui gerakan yang disebutnya gerakan ‘sederhana’ literasi, kini gerakan itu menjadi gerakan nasional yang digawangi langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, salut dan semangat terus Pak Satria.

https://indonesiana.tempo.co/read/62891/2016/02/16/pulpenmurah/satria-dharma-pahlawan-literasi-dari-surabaya#CY0ZPLveEVLhVLyW.99

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *